Tampilkan postingan dengan label sdm. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sdm. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 September 2007

China's Me Generation


Generasi penerus bangsa China yang sekarang berusia sekitar 30 tahunan—China’s me generation—adalah generasi yang bahagia dan kaya, penyumbang terbesar kemajuan ekonomi di China tetapi berorientasi pada diri sendiri serta menjalani kehidupan tanpa memikirkan unsur politik. Kemakmuran ini merupakan hasil jangka panjang kebijakan satu-anak-satu-keluarga. Generasi ini tidak tertarik dalam hal politik karena (1) tidak tertarik dengan pengalaman-pengalaman buruk yang diceritakan generasi sebelumnya (seperti peristiwa Tiananmen Square), dan ; (2) kenyamanan gaya hidup yang sekarang mereka rasakan (iPod, Starbucks, dll) malah dapat hilang. Generasi ini sangat produktif secara ekonomis dan pemerintah ’memanjakan’ mereka, tapi kebijakan yang hanya melayani kelompok kelas menengah ini (Pada tahun 2015 diestimasi jumlah populasi young adult di China naik 61% menjadi 500 juta) melalaikan kelompok rural, yang miskin, dan justru memiliki risiko jangka panjang terhadap ekonomi sendiri. (tisa' 05).

Sumber: Time, 26 Juli 2007; China's Me Generation; Simon Elegant

Ringkasan artikel ini ditulis oleh peserta workshop menulis, kerja sama Unit Penunjang Akademik FPsiUI dan Psyche. Untuk informasi lebih lanjut tentang workshop ini, kunjungi
http://psyche-ui.blogspot.com

Selasa, 11 September 2007

The Man in the Mask




Pada 25 September, para video-gamer akan merayakan rilisnya Halo 3, video games box-office lanjutan Halo dan Halo 2 (Halo 2 sukses terjual $125 hanya dalam 24 jam setelah rilis). Halo pertama menampilkan Master Chief sebagai protagonis utama --bersama sidekick hologramnya, Cortana-- yang terdampar di sebuah planet berbentuk cincin dan harus melawan dua musuh sekaligus: alien dan, tahanan planet tersebut, Flood. Tidak seperti video game konvensional dengan pendekatan aksi nonstop, Halo memberikan sentuhan artistik melalui musik ilustrasi (bernuansa kadang Wagnerian, kadang Gregorian), pemandangan latar atmosferik (kadang bahkan romantis), dan ujaran-ujaran puitis (meninggalkan nuansa Jane Austen). Master Chief, dengan tidak pernahnya melepas power suit dan helmnya --terutama helmnya-- menguatkan impresi pengalaman orang-pertama bagi pemainnya. Bungie, rumah desain yang memproduksi Halo, terdiri dari sekelompok staf dari, berbagai latar belakang profesi, yang berdedikasi-terhadap-detil dan punya kedekatan pribadi dengan Halo (bisa jadi karena ketidakpuasan mereka di pekerjan lama mereka). Halo 3 merupakan fenomena baru lintas-media. Selain dirilisnya Halo 3 (untuk awal hanya tersedia di PlayStation 3), Halo sudah dikembangkan menjadi dua novel, sedang dalam produksi sebagai film layar lebar yang disutradarai Peter Jackson, dan, oleh sutradara yang sama, akan dikembangan satu spin-off.
Sumber: Time, 10 September 2007; The Man in the Mask; Lev Grossman

It's What's on the Outside That Counts

Professor Harvard Business School, Elton Mayo, pada penelitian yang ia lakukan tahun 20-an menemukan bahwa perubahan pada fisik lingkungan dapat mempengaruhi efektivitas performa seseorang. Dalam penelitian berikutnya, Mayo menemukan bahwa performa beberapa orang yang saling tahu pikiran anggota kelompoknya akan terlihat sebagai satu ‘orang’, bukan beberapa orang. Teori ini sudah berumur 80-an tahun, dan menurut Deborah Ancona, professor MIT’s Sloan School of Management, dan Henrik Bresnan, asisten professor industri dan organisasi di INSEAD, melalui dekadean penelitian, menyimpulkan dalam buku mereka X-Team: How to Build Teams That Lead, Innovate and Succeed bahwa hubungan eksternal (hubungan anggota tim dengan di luar tim) --dengan hirarki yang longgar, bukan struktur yang kaku-- dapat menuntun tim pada bersaing dan sukses di ekonomi global yang knowledge-driven ini (berdasarkan studi kasus Ancona dan Bresman terhadap Microsoft, Motorola, Toyota, Southwest Airlines dan Mery-Lynch).
Sumber: Time, 10 September 2007; It’s What’s on the Outside That Counts; Barbara Kiviat

Senin, 27 Agustus 2007

Psikologi dan SDM

Pemberi kuliah: Bpk M. Enoch Markum
Judul: Psikologi dan Sumber Daya Manusia
Waktu: Senin, 27 Agustus 2007
Tempat: Auditorium Gd.H


Berikut adalah notulensi sesi tanya-jawab kuliah umum Senin 27 Agustus 2007 lalu. Dua dari empat penanya berikut ini adalah mahasiswa angkatan 2007. Kuliah umum ini tersedia dalam format audio. Komentar Anda sangat diharapkan.


(Rininda) Saya merasa di Indonesia, tenaga kerja lebih banyak dianggap sebagai human resources daripada human capital. Kenapa begitu?
Ada dua jenis aset dalam organisasi: tangible (alat, gedung, dll) dan intangible (pengetahuan seorang karyawan). Nilai aset intangible 3 kali dibanding tangible aset: lebih sulit bagi organisasi untuk mengganti staf ahli dibanding mengganti mesin. Dalam budaya, termasuk organisasi, selain symbols dan rituals juga terdapat heroes (pahlawan). Heroes dalam konteks organisasi merupakan karyawan yang expert. (Menjawab pertanyaan Anda) Pertama, kesadaran terhadap heroes rendah. Kedua, heroes harus diciptakan (talent management). Ketiga, memperhatikan sisi kemanusiaan tenaga kerja: stress, emosi, dll.
-


(Diti) Tenaga kerja di Indonesia tersebar karena Indonesia merupakan negara kepulauan, yang banyak penduduknya terbelakang (masih terikat oleh hukum daerah dan hukum alam). Bagaimana peran psikologi mengembangkan SDM ini?
Kalau Anda ingin mengembangkan potensi mereka (kualitas kesehatan, pendidikan), Anda bisa masuk ke progam studi Intervensi Sosial. Beberapa waktu yang lalu Bagian Psikologi Sosial, bekerja sama dengan instansi di Kepulauan Seribu, mengubah sikap nelayan tangkap menjadi nelayan budidaya --dengan menjadi nelayan budidaya, mereka menjadi lebih tangguh dalam kompetisi.

Anda benar bahwa budaya penting dipertimbangkan dalam intervensi. Pastikan intervensi tidak bertentangan dengan budaya, untuk meminimalisasi resistensi. Selain itu, intervensi juga dilakukan secara bertahap untuk mencapai ke kondisi yang lebih baik.
-


(Olga) Kualitas SDM Indonesia tertinggal oleh Singapura, padahal Singapura negara kecil. Apakah kualitas SDM Singapura yang tinggi tersebut justru dipengaruhi oleh kecilnya negara mereka (SDM-nya tidak seberagam Indonesia sehingga mudah diatur)?
Tingkat kesulitan meningkatkan kualitas SDM Indonesia memang lebih tinggi dibanding Singapura: penduduk lebih banyak, negara lebih luas, penduduknya heterogen, dsb. Salah satu keberhasilan negara Jepang adalah karena masyarakatnya homogen. Heterogenitas 220 juta penduduk Indonesia (misalnya, dari tidak tahu ada komputer, kenal komputer, sampai mahir komputer) malah dirasa sebagai beban. Faktor yang lain adalah frekuensi konflik kekerasan di negara tersebut (negara-negara di selatan lebih maju dibanding negara-negara utara karena frekuensi konflik kekerasan di negara selatan lebih jarang). Kekerasan ini merupakan indikasi bahwa storming di negara-negara ini terlalu lama (termasuk Indonesia), sehingga tidak sempat mengalami norming, apalagi performing.
-


(Olga) Apakah kriteria ‘Jujur’ masih relevan dengan masa sekarang?
Peningkatan kualitas SDM bisa dilakukan dengan management by objective dan management by value. Management by objective, karena memungkinkan terjadinya kecurangan (misal, mencapai target produktif dengan mencuri hasil kerja orang lain), masih dapat menyebabkan kerugian. Ini diatasi dengan management by value. ‘Jujur’ masih sangat relevan bukan sebagai exposed value (nilai yang diketahui), tapi sebagai enacted value (nilai yang dipraktikkan). Dalam konteks pendidikan, misalnya, Anda sebagai mahasiswa diharapkan tidak melakukan scientific misconduct (misalnya, plagiasi tulisan ilmiah, memanipulasi data penelitian, dll).
-


(Herni) Bapak Enoch mengusulkan 6 sikap kunci mengembangkan SDM bangsa. Di acara Business Art from Mario Teguh di O Channel dibahas 4 kunci sukses (jujur, kerja keras, mudah dibantu, dan memiliki keterdesakan). Bagaimana hubungan kedua usulan kunci tersebut?
Enam kunci sikap yang saya ajukan tersebut merupakan hasil observasi. Orang lain, peneliti lain mungkin saja mendapatkan insight yang berbeda.
-


(Herni) Salah satu dari 6 point (mengembangkan SDM bangsa) tadi adalah ‘tahu kemampuan diri.’ Bukankah untuk maju kita harus berani keluar dari zona nyaman?
Dikaitkan dengan risiko, ada tiga macam tingkahlaku: low-risk, moderate-risk, dan high-risk. ‘Tahu kemampuan diri sendiri’ bukan refleksi dari high-risk (ini lebih dekat dengan berjudi), tapi dengan moderate-risk (nama lainnya adalah calculated-risk).